Rabu, 27 Januari 2010

Sepertiga waktu yang paling dirahmati

Rabb, Engkau rahmati alam dengan malam.
Sebab jiwa_jiwa yang lelah dibawah matahari Mu merebah diri tatkala malam meninggi.
Namun ya Rabb, izinkanlah kami terjaga di sepertiga malam Mu.
Sebab, itulah waktu yang paling Engkau rahmati dari 24 jam waktu yang tersedia.

Minggu, 10 Januari 2010

"lihat mak, anak mamak menjadi orang berhasil!!"


Ibuku berasal dari daerah Tapanuli, kec. Siabu Sumatera Utara. Lahir sebagai anak ke 4 dari 7 bersaudara. Mereka 7 bersaudara sangat patuh satu dengan yang lain, artinya jika dia lebih muda maka dia tidak pernah membantah apa yang menjadi perkataan yang lebih tua, dan hal ini juga berlaku bagi kami sekarang bahkan bersepupu dari pihak ibuku. Sikap menghormati juga ditanamkan pada kami dalam bertutur, setiap bertemu dan berpisah saling bersalaman dimana punggung tangan yang lebih tua harus dicium kekening kita jika kita lebih muda.

sekali waktu, saat kami berkumpul, Tulang-Tulang (paman), ibu dan bujingku (adik perempuan ibu) sering bercerita tentang masa kecil mereka. Misalnya saja kisah Tulang Cholil (abang ibuku no 2). Satu hari nenekku sedang berjualan dipoken, dan Tulang Cholil yang bertugas membantu. Tidak berapa jauh dari situ terdapat lapangan bola, sorak sorai penontonpun sampai pula ketelinga Tulangku ini, begitu ia mendengar sorak sorai penonton dari kejauhan maka naluri atlitnyapun bangkit seketika. Tapi tentu saja Tulangku tidak bisa menunaikan hasratnya bermain dilapangan hijau menggiring bola lalu kemudian mencetak gol karena dia tengah bertugas membantu nenekku berjualan. Dia segera memutar otak dan segera dapat ide yang sangat cemerlang, dia meminta izin nenekku untuk mengambil air "*umak, ma habis aek ta, ke jolo au mangalap tu bagas ta da mak" (*mak, udah habis air kita, pergi dulu aku mengambil kerumah ya mak) pinta Tulangku dengan polos. Nenek yang saat itu tengah sibuk langsung saja mengiyakan. Dengan cekatan Tulangku bergerak lalu lari membawa ceret. Sejam, dua jam, ashar berlalu hingga magrib Tulangku tak kunjung tiba, bahkan nenekku sudah pulang kerumah dengan membawa amarah berkilo-kilo akibat tipuan Tulangku. Setiba dirumah, tentu saja Tulangku didamprat habis-habisan sebab berani berdusta. Katanya ngambil air tapi ternyata nyangkut dilapangan bola untuk bermain seoalah-olah dia adalah bintang lapangan yang paling ditunggu-tunggu, dan tentu saja dia dimarahi dengan pasal berlapis karena ceret yang dibawa lari sebagai alat kejahatan tipuan tak ikut dibawa pulang, entah hilang dimana.

Akan tetapi, Tulang Cholil ku ini sangat menoreh kebanggaan bagi opung dan nenekku. Pasalnya, dia punya keinginan tinggi untuk sekolah dan menjadi orang berhasil. Hal ini didasari karena satu hal, begini ceritanya..! Pernah satu hari Tulangku ini menjunjung sayur yang baru dipanen diatas kepalanya. Saat pulang dari ladang, Tulang berpapasan dengan seorang tetangga dan menyapa nenek dengan kalimat begini "*nagot jadi aha do anak muyu, na songon kuli do! Na bisa sikolah lakni!" (* mau jadi apanya anak mu ini, kayak kulinya! Gak bisa rupanya menyekolahkan ya!). Tentu saja Tulangku yang sebenarnya punya cita-cita ini sangat tersinggung karena merasa direndahkan. Memang kami akui, bahwa opung & nenekku orang yang sangat pas-pasan. Setelah kejadian itu, Tulang yang sudah menamatkan PGA di Padang Sidimpuan meminta agar nenek menyekolahkannya ke Jogyakarta sebab saat itu IAIN negri ada disana belum dikota Medan. Tentu saja Nenek berpikir 10kali mendengar pinta anaknya, sebab untuk keseharian saja sulit. Tulangku tak patah semangat, dia meminta agar Nenek memberi dia ongkos dan uang untuk 3bulan dijogya, setelah 3 bulan maka Tulang mencari penghidupan sendiri hingga tamat. Dan ternyata kenekatannya berbuah kesuksesan, dia menjadi seorang sarjana yang saat itu masih sangat langka kata sarjana ditelinga orang-orang kampung nenek. Tak berhenti sampai disitu, pulang kemedan Tulang lulus PNS di pengadilan agama, pelan namun pasti dia akhirnya menancapkan karir sebagai Hakim dan sebagai ketua pengadilan tinggi agama Stabat. Betapa Nenek bercucuran air mata saat menyaksikan pelantikan Tulang saat menjadi Hakim, seorang ibu yang buta huruf alphabet yang hanya tau menghitung uang receh hasil dagang yang hanya tau membaca huruf ijaiyah kini menyaksikan anaknya menjadi orang Nomor Satu di PTA Stabat (sekitar Tahun 80'an). Karir beliau terus menanjak, tapi beliau tetap menjadi pribadi yang sangat jujur dan penyayang. Saat usai pelantikan, nenek yang menangis dipeluk erat oleh Tulang, dengan bangga Tulang berkata pada nenek "lihat mak, anak mamak menjadi Orang berhasil", nenek terus menangis dan terus bertasbih memuji kebesaran Allah, pelukan itupun diabadikan dalam foto. Beliau 2kali keMEKKAH sebagai petugas ketua kloter, free. Subhanallah.

pribadi Tulang Cholil sangat melekat bagi kami semua bersepupu. Beliau kami cintai seperti mencintai Ayah Kandung Sendiri. Dia mendidik kami mulai dari bertutur, bercita-cita, sholat berjamaah, adab makan terutama dimeja makan, membawa kami tamasya kemana-mana. Betapa kami sangat kehilangan saat ia berPulang keRahmatullah September 2006, 6 bulan setelah dilantik menjadi Wakil Ketua PTA LOMBOK NTT. Serasa mimpi ketika melihat jenazahnya, persis serasa kehilangan seorang Ayah tercinta, tapi inilah KehendakNya dan terbaik baginya.

Drs. H. Cholill Hasibuan M.hum,, cintamu, didikanmu, tak putus, abadi dalam batin kami semua keponakanmu. Kini hanya doa penghubung kita dalam pengharapan CintaNya padamu, "papa".

Kamis, 07 Januari 2010

Billy sayang _ Billy malang!


Aku sangat menyukai anak-anak, dan bahkan setiap orang pasti menyukai anak-anak. Apalagi jika anak tersebut masih balita, lincah dan menggemaskan. Begitu juga dengan balita yang satu ini, Billy namanya. Lahir sebagai anak pertama dari pasangan Esi dan Sam. Billy berusia 2 tahun (saat itu) sangat lincah, periang, tidak cengeng dan bertubuh montok dan tegap.

Rumah Billy tepat berada didepan rumahku. Halaman rumahku cukup asri lapang, terdapat pohon jambu air yang rindang sehingga tak jarang tetangga-tetanggaku datang sekedar duduk dan ngobrol dengan empunya rumah dan sudah pasti duduknya dibawah pohon. Begitu juga Billy, dia sering datang dan main dihalaman rumahku. Billy sangat ceria, dan itu memang ku perhatikan. Dia sangat jarang sekali ku dengar menangis meskipun terjatuh saat tengah bermain atau dimarahi si ibu karena sedikit mengulah, misalnya saja saat ku lihat dia mengejar kucing pada waktu makan. Pernah beberapa kali ketika dia bermain, dia terjatuh, kakinya sedikit memar, tapi sekalipun dia tidak menangis padahal si ibu tengah merepet panjang padanya tapi dia hanya memandang kakinya dan sesekali menoleh pada si ibu yang tengah marah dan menasehatinya. "anak yang baik budi", senyumku dalam hati.

Pernah satu hari Billy ku isengi. Saat dia hendak keluar dari halaman rumahku, pintu pagar yang tadinya terbuka ku tutup tepat saat dia berada didekat pagar selangkah hampir keluar. Billy memandangiku dengan kening berkerut, mungkin dia heran kenapa tiba-tiba pagar ku tutup sedang dia mau keluar. Ku biarkan dia berdiri kebingungan sedang aku menunggu reaksi selanjutnya. "dia pasti menangis", duga ku dalam hati, tapi ternyata dugaanku meleset jauh. Dia malah mencoba mendorong pintu pagar agar terbuka yang tentu saja tak jua bergeming meski sekuat apapun dia mencoba. Kini balik aku yang terkejut dan bingung, betapa ini anak tidak lemah secara mental bahkan sangat tegar, dia tidak merengek untuk dapat perhatian tapi malah berusaha. Hmmm.... Ku tunggu reaksi selanjutnya, aku coba menduga kembali "dia pasti akan cape, lalu menangis dan kemudian akan mendekatiku untuk dibukakan", hatiku coba menerka. Dan lagi, dugaanku kembali rontok. Dia malah memilih melakukan hal lain, tidak ada rengekan sedikitpun apa lagi tangisan, sama sekali tidak. Tahukah anda apa yang Billy lakukan?!, dia malah menjauhi pagar dan bermain sendiri diteras samping rumahku dan mengganggu kucing liar yang sedang nongkrong disitu.

Tapi... Satu hari, semua keceriaan Billy kandas begitu saja. Billy tiba-tiba sakit, demam tinggi. Yesi datang kerumahku dengan panik dan meminta mamaku untuk menolong Billy. Mama membawa Billy ke rumah sakit umum pemerintah. 2 hari berselang, Billy tidak menunjukkan kondisi lebih baik, dan karena alasan JAMSOSTEK yang hanya berlaku disalah satu rumah sakit umum swasta Billy kemudian dipindahkan. Sehari setelah pindah, kondisi Billy menurun drastis dan dengan sangat terpaksa dirawat di ruang ICU, Billy koma. Berhari-hari, tidak juga menunjukkan reaksi lebih baik.

Entah apa alasan, akhirnya keluarga membawa Billy pulang dan menjalani rawat jalan. Sehari kepulangan Billy, ku dengar keluarga Billy mengadakan Kidung (keluarga Billy penganut agama kristen) untuk kesembuhan Billy. Ku dengar tangisan ibunya yang memohon kesembuhan untuk sikecil pada Tuhannya seraya terus menyenandungkan Kidung Rohani. Hatiku terasa miris mendengar tangisan ibunya yang terus mengiba penuh dan dalam kepasrahan yang tersisa memohon mukjizat pada kuasa Tuhannya. "yah... Seorang ibu terhadap anak" desahku membatin. Betapa tidak! Ngilu tentu hati seorang ibu yang dihadapkan pada anak yang tengah menderita dalam keluguan dan kepolosan harus bergelut dengan maut yang kemudian pada akhirnya Billy yang tidak pernah menangis, yang tidak menyerah akhirnya harus menyerah pada pelukan damai Tuhannya dan meneteskan air mata tepat saat matanya tertutup untuk selamanya.

Sungguh teramat dalam Rahasia Tuhan ditiap lembar hidup insan. Inilah Tuhan dengan tiap kuasaNya, lebih memahami yang terbaik bagi hambanya.

Titip rindu buat ayah


Aku terjaga saat alam masih sangat gelap.
Terjaga lalu kemudian menangis
terisak-isak

ada yang ku rindu
dalam lubuk batin yang telah lama
hingga membuncah saat aku bermimpi
dia menjemputku
dia memelukku
lalu mencium ubun-ubunku

ah, ayah... Pernahkah ayah melihat aku menangis?
Menangis untuk satu rindu
rindu yang tak pernah ku katakan hingga akhirnya ku salin dilembar ini

ayah,, ku yakin jauh dibenakmu menginginkan aku bahagia. Keinginan yang juga tak pernah kau ucapkan hingga akhirnya terlihat saat kau cepat-cepat pulang dari jauh untuk segera berada dirumah saat kau mendapati kabar ku terbaring tak berdaya dan harus segera dilarikan kerumah sakit. Meski sesampainya dihadapanku tetap tak ada satu kata keluar untukku,, mungkin doa mu hanya dalam batin agar aku segera sehat.

ayah, lihatlah aku!
Ada rindu yang ingin ku katakan hingga akhirnya ku titipkan dalam lembar ini.

Hidup seumpama tawaf


Ya Allah... Hidupku bertawaf mengelilingi titik porosnya.
Terus berputar sesuai dengan tuas yang telah Engkau tentukan.
Kadang ada gesekan yang membuat tawafku goyang atau kadang terhimpit terasa sesak.
Kadang ada tarikan gravitasi masa yang membuat hatiku pasang surut mengukur iman.
Kadang ada uluran masa yang membuatku menjauh dan mendekat pada Mu.
Dan titik poros itulah TakdirMu, pusat segala ketetapanMu untukku.