Anda mungkin pernah mengalami nyeri akibat bisul yang timbul disembarang tempat tubuh anda. Misalnya saja di wajah, selain merasakan sakit tentu saja kehadiran "si bisul" mengganggu performa anda. Hmm... Lain hal lagi jika sibisul timbul didaerah yang privat, tak terlihat memang tapi sangat menyakitkan misalnya dibagian paha atau ketiak.
Satu kali saya pernah mengalami nyeri luar biasa akibat Si BisuL yang timbul seenaknya. Yang paling menyusahkan adalah saat saya harus sujud sebab dia hadir dan menetap tepat dikening saya walau hanya untuk beberapa hari. Memang bisul yang berhabitat dikening saya hanyalah bisul padi yaitu bisul kecil seperti jerawat. Tapi meskipun kecil efek dari rasa sakit yang ditimbulkannya luar biasa. Belum lagi jika harus sujud saat melakukan gerakan Shalat, walhasil kening saya tidak rata menyentuh sajadah. Hmm... Apa boleh saya buat, sebab "dia" telah ditakdirkan untuk hidup dikening saya untuk beberapa saat.
Mudah-mudahan anda tidak mengalami :D
Tampilkan postingan dengan label cerita ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita ku. Tampilkan semua postingan
Minggu, 08 Agustus 2010
Kamis, 22 Juli 2010
Sisi Positif Angkutan Umum
Di Indonesia selama ini, angkutan umum selalu dianggap biang masalah dalam hal berlalu lintas bagi semua pengguna jalan. Tentu saja ini sesuatu yang tidak bisa dinafikan begitu saja karena angkutan umum memang selalu sesuka udelnya menggunakan jalanan. Misalnya saja:
1. menaikkan atau mangkal menunggu penumpang ditempat yang jelas-jelas dilarang menaikkan penumpang padahal disediakan terminal tempat untuk menunggu, hingga membuat kemacetan panjang akibat mangkal disembarang siri jalan.
2. Berhenti ditempat yang jelas-jelas dilarang berhenti.
3. Menyalip kendaraan dengan kecepatan tinggi dengan alasan kejar setoran hingga mengabaikan keselamatan penumpang dan pengguna jalan yang lain.
4. Rasa tidak aman karena rawan kejahatan.
5. Jakarta lain lagi, angkutan umum memasuki wilayah yang sebenarnya diharamkan untuk dilewati kendaraan umum selain dan hanya busway atau transjakarta.
Hmm... Lengkap sudah.
Tapiiii . . . . . Itu sudah jadi rahasia umum masyarakat Indonesia yang sudah biasa dijadikan buah bibir.
Nah, yang belum biasa dijadikan buah bibir dari angkutan umum adalah sisi positifnya.
Saya sebagai orang yang paling sering menggunakan fasilitas angkutan umum disetiap aktivitas saya perlahan menyadari bahwa ada sisi positif saat berada dalam angkutan umum. Misalnya saja waktu aku tak sengaja mendengarkan pembicaraan orang lain bahwa diMedan ada salah satu Bank yang sedang buka lowongan. Langsung aku pasang kuping setajam mungkin untuk menyimak pembicaraan mereka, alhasil ku dapati persyaratan lamarannya apa saja, kapan dan kemana lamaran diantar. Info ini tak ku sia-siakan meski bukan untukku tapi untuk teman-temanku.
Dilain waktu, aku juga mendengar pembicaraan orang tentang hal-hal yang terjadi dikota Medan namun belum sempat dipublikasikan media, misalnya saja kasus pasien di salah satu rumah sakit yang gagal perawatan intensif akibat alat-alat diruang ICU mati karena listrik rumah sakit itu padam. Besoknya berita tersebut hadir di media.
Selain informasi-informasi tersebut, ada hal lain lagi dalam sisi positif angkutan umum. Misalnya saja aku yang setiap harinya pergi dan pulang kerja diwaktu yang selalu sama setiap harinya, hampir setiap hari selalu bertemu dengan penumpang angkutan yang juga hampir itu-itu saja orangnya, hingga akhirnya terjalin percakapan dan tercipta hubungan silaturahim tersendiri dalam angkutan yang juga setiap jam kerjaku mobil angkutan itu yang dapat giliran narik penumpang, bahkan sang supir sudah sangat hapal beberapa dari kami penumpangnya yang akan turun dimana tanpa kami beri aba-aba ingin turun, dan tentunya supirnya hampir setiap hari orang yang sama juga.
Hmmm...... Bagi anda pengguna angkutan umum, apakah anda menyadari seperti yang saya rasakan dalam angkutan umum? :)
1. menaikkan atau mangkal menunggu penumpang ditempat yang jelas-jelas dilarang menaikkan penumpang padahal disediakan terminal tempat untuk menunggu, hingga membuat kemacetan panjang akibat mangkal disembarang siri jalan.
2. Berhenti ditempat yang jelas-jelas dilarang berhenti.
3. Menyalip kendaraan dengan kecepatan tinggi dengan alasan kejar setoran hingga mengabaikan keselamatan penumpang dan pengguna jalan yang lain.
4. Rasa tidak aman karena rawan kejahatan.
5. Jakarta lain lagi, angkutan umum memasuki wilayah yang sebenarnya diharamkan untuk dilewati kendaraan umum selain dan hanya busway atau transjakarta.
Hmm... Lengkap sudah.
Tapiiii . . . . . Itu sudah jadi rahasia umum masyarakat Indonesia yang sudah biasa dijadikan buah bibir.
Nah, yang belum biasa dijadikan buah bibir dari angkutan umum adalah sisi positifnya.
Saya sebagai orang yang paling sering menggunakan fasilitas angkutan umum disetiap aktivitas saya perlahan menyadari bahwa ada sisi positif saat berada dalam angkutan umum. Misalnya saja waktu aku tak sengaja mendengarkan pembicaraan orang lain bahwa diMedan ada salah satu Bank yang sedang buka lowongan. Langsung aku pasang kuping setajam mungkin untuk menyimak pembicaraan mereka, alhasil ku dapati persyaratan lamarannya apa saja, kapan dan kemana lamaran diantar. Info ini tak ku sia-siakan meski bukan untukku tapi untuk teman-temanku.
Dilain waktu, aku juga mendengar pembicaraan orang tentang hal-hal yang terjadi dikota Medan namun belum sempat dipublikasikan media, misalnya saja kasus pasien di salah satu rumah sakit yang gagal perawatan intensif akibat alat-alat diruang ICU mati karena listrik rumah sakit itu padam. Besoknya berita tersebut hadir di media.
Selain informasi-informasi tersebut, ada hal lain lagi dalam sisi positif angkutan umum. Misalnya saja aku yang setiap harinya pergi dan pulang kerja diwaktu yang selalu sama setiap harinya, hampir setiap hari selalu bertemu dengan penumpang angkutan yang juga hampir itu-itu saja orangnya, hingga akhirnya terjalin percakapan dan tercipta hubungan silaturahim tersendiri dalam angkutan yang juga setiap jam kerjaku mobil angkutan itu yang dapat giliran narik penumpang, bahkan sang supir sudah sangat hapal beberapa dari kami penumpangnya yang akan turun dimana tanpa kami beri aba-aba ingin turun, dan tentunya supirnya hampir setiap hari orang yang sama juga.
Hmmm...... Bagi anda pengguna angkutan umum, apakah anda menyadari seperti yang saya rasakan dalam angkutan umum? :)
Rabu, 21 Juli 2010
Hari Pertama Sekolah

Semua orang yang pernah mengenyam bangku pendidikan pasti pernah merasakan perasaan senang dan bangga memakai pakaian seragam sekolah, sepatu, tas, perlengkapan belajar mulai dari pensil, penghapus, kotak pensil, buku yang tentu saja semua serba baru.
Rasa bangga dihari pertama sekolah juga tak luput dirasakan oleh para orang tua (wali murid) yang mengantar anaknya kesekolah.
Pemandangan ini tentu terlihat hampir diseluruh sekolah disemua penjuru kota mulai dari TK, SD, SMP, SMA dan sekolah-sekolah sederajat (dan tentunya juga dikota anda). Pemandangan inilah yang ku dapati setiap tahun ajaran baru dimulai.
Tapi, ada kejadian lain jika pemandangan ini terlihat di Sekolah Dasar. Orang tua murid yang datang mengantar anaknya telah datang pagi-pagi sekali jauh sebelum kelas-kelas dibuka oleh sipenjaga sekolah. Hanya satu alasan mereka yaitu untuk mendapat posisi tempat duduk strategis untuk si anak. Bahkan tak jarang si ibu tak mau meninggalkan anaknya yang sudah duduk dengan alasan si anak takut dipindahkan oleh orang lain (mungkin gurunya atau orang tua murid lainnya). Namun tak jarang hal perebutan posisi duduk menjadi sesuatu yang dipertengkarkan oleh orang tua murid. Hmmm... Jika dihari pertama sianak berada dikelas saja sudah mendapat contoh tak elok dari orangtuanya yang bertengkar karena berebut sesuatu, mungkin saja selanjutnya sianak akan bertengkar dengan teman sekelas atau teman sebangkunya akibat memperebutkan sesuatu yang sepele. (*sesuatu yang tak seharusnya terjadi).
Untuk semua orang tua!! Jika anda memang ingin menyekolahkan putra putri anda, maka biarkan guru nya yang mengurusi sianak disekolah. Anda cukup mengantar dan memberi arahan pada sianak agar tidak berbuat nakal dan baik-baiklah dikelas. Jika anda tidak mengajarkan anak anda untuk mandiri sejak dini terutama jika anak anda telah berada dalam satu lingkungan dalam hal ini lingkungan sekolah, maka yakinlah anak anda tidak akan terbiasa untuk bersosialisasi dengan lingkungannya karena terbiasa dibela oleh anda dalam segala hal.
Selasa, 13 Juli 2010
salahkah ia mengasuh?

Sore itu langit terlihat mendung, sedang jam telah menunjukkan pkl.06.20 petang. Sesaat lagi malampun tiba di langit kota medan. Dia hanya bisa mendesah panjang, terduduk di tepi ranjang menunggu anak semata wayangnya yang sejak semalam siang tak jua pulang. Dia coba memanggil via telpon tapi untuk yang kesekian kali lagi dia hanya di jawab oleh mesin operator yang mengatakan bahwa nomor yang sedang ia tuju berada di luar jangkauan. Desah semakin berat, hingga ia menangis seorang diri di tengah kamar yang luas dan didalam rumah yang besar. Hidup sendiri tanpa sanak keluarga sebagai seorang janda dipulau sumatra seorang diri dengan seorang anak perempuan yang ternyata belakangan diketahui bahwa itu adalah anak adopsi.
Tiba-tiba dia tersadar oleh suara mobil yang berhenti didepan rumahnya. dengan langkah lesu dia coba melihat siapa yang datang, ternyata anak perempuannya pulang dalam keadaan yang lain dari biasanya. Rambutnya awut-awutan, celana jeans panjang yang semalam dipakainya telah berganti dengan celana jeans super pendek dan ketat, baju yang tak berlengan dan sangat menunjukkan bentuk tubuhnya yang baru saja mengalami puber. Betapa kagetnya Imah melihat anaknya pulang dengan pakaian seperti itu. lebih menyakitkan lagi bahwa ia mengetahui anaknya diantar oleh seorang laki-laki yang sangat jauh umurnya dari anaknya yang masih duduk dibangku kelas 1 SMP.
Imah coba bertanya kenapa Ana tidak pulang dan tidak memberi kabar,dengan siapa dan kemana Ana semalam pergi tanpa berita. Tapi apa jawaban dari Ana, Ana malah menyenggak ibunya "sibuk kali mama nanya-nanya, Ana cape ma... lapar...". jantung Imah menderuh hebat, tak pernah dia duga kenapa anaknya menjadi seperti ini.
Hari berganti minggu menjadi bulan, tingkah laku Ana semakin tak bisa dikendalikan. Satu hari sepulang Imah dari mengajar di salah satu perguruan tinggi, ia terperanjat melihat anak perempuannya yang masih berumur 13 Tahun tengah asyik menyulut rokok sambil menonton Tv dengan pakaian yang super minim. Imah berang dan memarahi anaknya, tapi apa... Ana lebih kasar lagi menyahuti amarah ibunya bahkan tak segan memaki sang ibu. Dep!!! jantung Imah diamuk gemuruh yang tak pernah ia sangka. Imah semakin hari semakin tak bisa mengendalikan anaknya, awalnya sianak merubah penampilan dengan super minim, kemudian mulai merokok, lalu membawa teman-teman perempuan yang entah dari mana di kenalnya yang belakangan diketahui bahwa mereka (teman-teman Ana) adalah lesbi, hingga kemudian Ana tak masuk-masuk sekolah hingga akhirnya harus dikeluarkan oleh pihak sekolah.
Imah menangis dalam malam menadahkan tangan pada Tuhan, apa yang tengah ia tuai ini, pertanyaan demi pertanyaan membuncah dalam dada nya yang semakin kuat menangis. apa salah terbesar yang pernah ia perbuat hingga Tuhan memberi ia hantaman seberat ini ke dalam jantungnya. Hingga pagi menjelang, Imah tak jua memahami sebab yang membuat ia dan anaknya terjebak dalam situasi seperti ini. Awalnya Ana adalah anak yang sangat cerdas dan berprestasi semasa SD nya, terutama semasa Papa nya hidup. Ana anak yang ceria dan periang, suka menolong dan tak segan memberi berbagi pada orang lain, tapi pasca Papa nya tiada Ana berubah menjadi liar tanpa tau apa penyebabnya.
Semalaman Imah tak tidur. ia menghabiskan waktunya diatas sajadah pengharapan. Dia keluar dari kamar dan menuju kekamar anaknya, ternyata Ana tak pulang dan lagi.... Imah tak tau kemana anaknya pergi. Imah duduk dimeja belajar anaknya, entah kenapa tangannya coba meraih buku yang ada disisi komputer. Perlahan ia coba membuka buku tersebut dan ternyata itu adalah buku harian Ana. lembar demi lembar dia baca, isinya masih seputar cerita Ana tentang bahagianya ia saat liburan bersama Papa dan Mamanya, bahagia saat ia pergi membeli aquarium dan ikan mas louhan bersama Papanya, bahagia saat mencari buku di Toko buku bersama Mamanya, dan hingga akhirnya Imah berhenti pada satu halaman yang membuat tubuhnya bergetar dan berdesir hebat. Dihalaman itu Ana menceritakan bahwa ia mengetahui bahwa dirinya hanya anak adopsi, Ana juga menuliskan bahwa ia sering diolok-olok temannya karena Mamanya lebih cocok jadi Neneknya bukan Mamanya. Usia Mama dan Papa Ana saat mengadopsi memang sudah cukup untuk dikatakan tua. Akibat dari usia Ana yang masih sangat labil, fase perubahan dan pencarian jati diri dari fase anak-anak menuju remaja pada saat mengetahui kenyataan tentang dirinya membuat Ana shock dan sulit menerima kenyataan hidupnya. Imah tertunduk lesu, menangis sejadi-jadinya, Imah tak tau haris mengeluh pada siapa dan siapa yang harus disalahkan. Rasa luka batinnya semakin perih saat mengetahui sebab yang membuat anaknya berubah.
Imah coba bicara baik-baik dengan anaknya tentang kenyataan yang ada, berharap sang anak mengerti dan mau kambali menjadi anak baik yang dulu dimilikinya. tapi.... sia-sia!!! Ana terlanjur jatuh dalam lingkaran Hitam pergaulan bebas, bahkan sering nongkrong ditempat-tempat yang tak wajar didatangi oleh anak seusianya hingga pagi menjamah alam.
Dan hingga kini, Imah memandang semuanya dengan tatapan semu meski jauh dalam batinnya ingin agar Tuhan segera membuka jalan lain untuknya. Ikhtiar untuk menyadarkan anaknya tak putus ia perbuat hingga seluruh harta peninggalan suaminya habis terjual karena sang anak yang tak tau tujuan dari labilnya psikologi. Rasa luka, sesal, kecewa, dan mungkin ingin menyerah telah berbaur menjadi satu dalam relungnya. Meski dia gontai dalam kesendirian namun asa akan Tuhan tetap terlihat dalam senyum Imah yang sendu.
Tiba-tiba dia tersadar oleh suara mobil yang berhenti didepan rumahnya. dengan langkah lesu dia coba melihat siapa yang datang, ternyata anak perempuannya pulang dalam keadaan yang lain dari biasanya. Rambutnya awut-awutan, celana jeans panjang yang semalam dipakainya telah berganti dengan celana jeans super pendek dan ketat, baju yang tak berlengan dan sangat menunjukkan bentuk tubuhnya yang baru saja mengalami puber. Betapa kagetnya Imah melihat anaknya pulang dengan pakaian seperti itu. lebih menyakitkan lagi bahwa ia mengetahui anaknya diantar oleh seorang laki-laki yang sangat jauh umurnya dari anaknya yang masih duduk dibangku kelas 1 SMP.
Imah coba bertanya kenapa Ana tidak pulang dan tidak memberi kabar,dengan siapa dan kemana Ana semalam pergi tanpa berita. Tapi apa jawaban dari Ana, Ana malah menyenggak ibunya "sibuk kali mama nanya-nanya, Ana cape ma... lapar...". jantung Imah menderuh hebat, tak pernah dia duga kenapa anaknya menjadi seperti ini.
Hari berganti minggu menjadi bulan, tingkah laku Ana semakin tak bisa dikendalikan. Satu hari sepulang Imah dari mengajar di salah satu perguruan tinggi, ia terperanjat melihat anak perempuannya yang masih berumur 13 Tahun tengah asyik menyulut rokok sambil menonton Tv dengan pakaian yang super minim. Imah berang dan memarahi anaknya, tapi apa... Ana lebih kasar lagi menyahuti amarah ibunya bahkan tak segan memaki sang ibu. Dep!!! jantung Imah diamuk gemuruh yang tak pernah ia sangka. Imah semakin hari semakin tak bisa mengendalikan anaknya, awalnya sianak merubah penampilan dengan super minim, kemudian mulai merokok, lalu membawa teman-teman perempuan yang entah dari mana di kenalnya yang belakangan diketahui bahwa mereka (teman-teman Ana) adalah lesbi, hingga kemudian Ana tak masuk-masuk sekolah hingga akhirnya harus dikeluarkan oleh pihak sekolah.
Imah menangis dalam malam menadahkan tangan pada Tuhan, apa yang tengah ia tuai ini, pertanyaan demi pertanyaan membuncah dalam dada nya yang semakin kuat menangis. apa salah terbesar yang pernah ia perbuat hingga Tuhan memberi ia hantaman seberat ini ke dalam jantungnya. Hingga pagi menjelang, Imah tak jua memahami sebab yang membuat ia dan anaknya terjebak dalam situasi seperti ini. Awalnya Ana adalah anak yang sangat cerdas dan berprestasi semasa SD nya, terutama semasa Papa nya hidup. Ana anak yang ceria dan periang, suka menolong dan tak segan memberi berbagi pada orang lain, tapi pasca Papa nya tiada Ana berubah menjadi liar tanpa tau apa penyebabnya.
Semalaman Imah tak tidur. ia menghabiskan waktunya diatas sajadah pengharapan. Dia keluar dari kamar dan menuju kekamar anaknya, ternyata Ana tak pulang dan lagi.... Imah tak tau kemana anaknya pergi. Imah duduk dimeja belajar anaknya, entah kenapa tangannya coba meraih buku yang ada disisi komputer. Perlahan ia coba membuka buku tersebut dan ternyata itu adalah buku harian Ana. lembar demi lembar dia baca, isinya masih seputar cerita Ana tentang bahagianya ia saat liburan bersama Papa dan Mamanya, bahagia saat ia pergi membeli aquarium dan ikan mas louhan bersama Papanya, bahagia saat mencari buku di Toko buku bersama Mamanya, dan hingga akhirnya Imah berhenti pada satu halaman yang membuat tubuhnya bergetar dan berdesir hebat. Dihalaman itu Ana menceritakan bahwa ia mengetahui bahwa dirinya hanya anak adopsi, Ana juga menuliskan bahwa ia sering diolok-olok temannya karena Mamanya lebih cocok jadi Neneknya bukan Mamanya. Usia Mama dan Papa Ana saat mengadopsi memang sudah cukup untuk dikatakan tua. Akibat dari usia Ana yang masih sangat labil, fase perubahan dan pencarian jati diri dari fase anak-anak menuju remaja pada saat mengetahui kenyataan tentang dirinya membuat Ana shock dan sulit menerima kenyataan hidupnya. Imah tertunduk lesu, menangis sejadi-jadinya, Imah tak tau haris mengeluh pada siapa dan siapa yang harus disalahkan. Rasa luka batinnya semakin perih saat mengetahui sebab yang membuat anaknya berubah.
Imah coba bicara baik-baik dengan anaknya tentang kenyataan yang ada, berharap sang anak mengerti dan mau kambali menjadi anak baik yang dulu dimilikinya. tapi.... sia-sia!!! Ana terlanjur jatuh dalam lingkaran Hitam pergaulan bebas, bahkan sering nongkrong ditempat-tempat yang tak wajar didatangi oleh anak seusianya hingga pagi menjamah alam.
Dan hingga kini, Imah memandang semuanya dengan tatapan semu meski jauh dalam batinnya ingin agar Tuhan segera membuka jalan lain untuknya. Ikhtiar untuk menyadarkan anaknya tak putus ia perbuat hingga seluruh harta peninggalan suaminya habis terjual karena sang anak yang tak tau tujuan dari labilnya psikologi. Rasa luka, sesal, kecewa, dan mungkin ingin menyerah telah berbaur menjadi satu dalam relungnya. Meski dia gontai dalam kesendirian namun asa akan Tuhan tetap terlihat dalam senyum Imah yang sendu.
Senin, 01 Maret 2010
Siapa yang salah? Ketika anak tak lagi punya sopan santun.

Aku benar-benar dibuat geleng kepala karena beberapa pemberitaan di media masa beberapa waktu lalu, baik koran maupun elektronik. Sekarang ini, siapa tak kenal Facebook? Internet? Menjamur subur disetiap sudut penjuru dunia, lebih-lebih di Negara Ku tercinta Indonesia. Sekali waktu aku pernah datang ke Warnet, dan kagetnya aku saat yang ku lihat warnet itu dipenuh pengunjung yang masih berusia 10 atau 11 tahun, murid SD!!! Pergi ke warnet laen, hal yang sama ku temui. Ku coba memperhatikan mereka yang terlihat asyik berselancar didunia maya, ada yang main game, ada yang facebookan, tapi yg lebih gila lagi... Ada yang buka situs terlarang! Ampun!!! Anak SD!!!
Tak ada yg bisa memungkiri betapa teknologi merambah setiap orang dengan bermacam usia. Ada hal positif tapi juga ada negatif. Misalnya saja Facebook yang kemaren heboh dengan berita "diculik teman jejaring sosial setelah bertemu di dunia nyata dari dunia maya", atau kasus Prostitusi ABG yang dipromosikan melalui jejaring sosial terSebut. Belum lagi Game Online yang menyita waktu anak muda habis didepan komputer. Teknologi dengan segala kecanggihan, dengan segala layanan permainan yang ada persis seperti mata pisau yang jika digunakan untuk hal baik akan bermanfaat, tapi jika digunakan untuk hal buruk maka dia bisa membunuh sebagai alat kejahatan.
sebenarnya siapa yang salah?
Disini, peran orang tua sangat penting eksistensinya dalam membentuk kepribadian anak, pergaulan anak. Orang tua perlu untuk mengetahui apa yang anaknya perbuat, dan bagaimana perkembangannya, pergaulannya, Sebab dalam islam diajarkan agar mendidik anak sesuai zamannya. Aku yang berprofesi sebagai seorang pendidik disekolah Dasar merasakan betul betapa anak zaman sekarang sangat jauh dari rasa malu, dan sangat kurang dalam bersopan santun. Bukannya tidak dididik, tapi pengaruh budaya luar yang diadopsi, ditelan mentah-mentah tanpa di filter. Jauh berbeda rasanya saat aku sekolah dulu, sangat segan dan hormat pada guru, tak berani menjawab-jawab perkataan guru lebih-lebih ketika guru memberi nasihat. Tapi nyatanya zaman sekarang, anak terlalu bijak untuk nyeleneh apalagi jika dinasehati. Siapa yang salah?? Jika generasi bangsa telah terbiasa dengan sifat konsumtif dan hedonis sungguh bangsa kita akan merugi.
siapakah yang salah??
Minggu, 10 Januari 2010
"lihat mak, anak mamak menjadi orang berhasil!!"

Ibuku berasal dari daerah Tapanuli, kec. Siabu Sumatera Utara. Lahir sebagai anak ke 4 dari 7 bersaudara. Mereka 7 bersaudara sangat patuh satu dengan yang lain, artinya jika dia lebih muda maka dia tidak pernah membantah apa yang menjadi perkataan yang lebih tua, dan hal ini juga berlaku bagi kami sekarang bahkan bersepupu dari pihak ibuku. Sikap menghormati juga ditanamkan pada kami dalam bertutur, setiap bertemu dan berpisah saling bersalaman dimana punggung tangan yang lebih tua harus dicium kekening kita jika kita lebih muda.
sekali waktu, saat kami berkumpul, Tulang-Tulang (paman), ibu dan bujingku (adik perempuan ibu) sering bercerita tentang masa kecil mereka. Misalnya saja kisah Tulang Cholil (abang ibuku no 2). Satu hari nenekku sedang berjualan dipoken, dan Tulang Cholil yang bertugas membantu. Tidak berapa jauh dari situ terdapat lapangan bola, sorak sorai penontonpun sampai pula ketelinga Tulangku ini, begitu ia mendengar sorak sorai penonton dari kejauhan maka naluri atlitnyapun bangkit seketika. Tapi tentu saja Tulangku tidak bisa menunaikan hasratnya bermain dilapangan hijau menggiring bola lalu kemudian mencetak gol karena dia tengah bertugas membantu nenekku berjualan. Dia segera memutar otak dan segera dapat ide yang sangat cemerlang, dia meminta izin nenekku untuk mengambil air "*umak, ma habis aek ta, ke jolo au mangalap tu bagas ta da mak" (*mak, udah habis air kita, pergi dulu aku mengambil kerumah ya mak) pinta Tulangku dengan polos. Nenek yang saat itu tengah sibuk langsung saja mengiyakan. Dengan cekatan Tulangku bergerak lalu lari membawa ceret. Sejam, dua jam, ashar berlalu hingga magrib Tulangku tak kunjung tiba, bahkan nenekku sudah pulang kerumah dengan membawa amarah berkilo-kilo akibat tipuan Tulangku. Setiba dirumah, tentu saja Tulangku didamprat habis-habisan sebab berani berdusta. Katanya ngambil air tapi ternyata nyangkut dilapangan bola untuk bermain seoalah-olah dia adalah bintang lapangan yang paling ditunggu-tunggu, dan tentu saja dia dimarahi dengan pasal berlapis karena ceret yang dibawa lari sebagai alat kejahatan tipuan tak ikut dibawa pulang, entah hilang dimana.
Akan tetapi, Tulang Cholil ku ini sangat menoreh kebanggaan bagi opung dan nenekku. Pasalnya, dia punya keinginan tinggi untuk sekolah dan menjadi orang berhasil. Hal ini didasari karena satu hal, begini ceritanya..! Pernah satu hari Tulangku ini menjunjung sayur yang baru dipanen diatas kepalanya. Saat pulang dari ladang, Tulang berpapasan dengan seorang tetangga dan menyapa nenek dengan kalimat begini "*nagot jadi aha do anak muyu, na songon kuli do! Na bisa sikolah lakni!" (* mau jadi apanya anak mu ini, kayak kulinya! Gak bisa rupanya menyekolahkan ya!). Tentu saja Tulangku yang sebenarnya punya cita-cita ini sangat tersinggung karena merasa direndahkan. Memang kami akui, bahwa opung & nenekku orang yang sangat pas-pasan. Setelah kejadian itu, Tulang yang sudah menamatkan PGA di Padang Sidimpuan meminta agar nenek menyekolahkannya ke Jogyakarta sebab saat itu IAIN negri ada disana belum dikota Medan. Tentu saja Nenek berpikir 10kali mendengar pinta anaknya, sebab untuk keseharian saja sulit. Tulangku tak patah semangat, dia meminta agar Nenek memberi dia ongkos dan uang untuk 3bulan dijogya, setelah 3 bulan maka Tulang mencari penghidupan sendiri hingga tamat. Dan ternyata kenekatannya berbuah kesuksesan, dia menjadi seorang sarjana yang saat itu masih sangat langka kata sarjana ditelinga orang-orang kampung nenek. Tak berhenti sampai disitu, pulang kemedan Tulang lulus PNS di pengadilan agama, pelan namun pasti dia akhirnya menancapkan karir sebagai Hakim dan sebagai ketua pengadilan tinggi agama Stabat. Betapa Nenek bercucuran air mata saat menyaksikan pelantikan Tulang saat menjadi Hakim, seorang ibu yang buta huruf alphabet yang hanya tau menghitung uang receh hasil dagang yang hanya tau membaca huruf ijaiyah kini menyaksikan anaknya menjadi orang Nomor Satu di PTA Stabat (sekitar Tahun 80'an). Karir beliau terus menanjak, tapi beliau tetap menjadi pribadi yang sangat jujur dan penyayang. Saat usai pelantikan, nenek yang menangis dipeluk erat oleh Tulang, dengan bangga Tulang berkata pada nenek "lihat mak, anak mamak menjadi Orang berhasil", nenek terus menangis dan terus bertasbih memuji kebesaran Allah, pelukan itupun diabadikan dalam foto. Beliau 2kali keMEKKAH sebagai petugas ketua kloter, free. Subhanallah.
pribadi Tulang Cholil sangat melekat bagi kami semua bersepupu. Beliau kami cintai seperti mencintai Ayah Kandung Sendiri. Dia mendidik kami mulai dari bertutur, bercita-cita, sholat berjamaah, adab makan terutama dimeja makan, membawa kami tamasya kemana-mana. Betapa kami sangat kehilangan saat ia berPulang keRahmatullah September 2006, 6 bulan setelah dilantik menjadi Wakil Ketua PTA LOMBOK NTT. Serasa mimpi ketika melihat jenazahnya, persis serasa kehilangan seorang Ayah tercinta, tapi inilah KehendakNya dan terbaik baginya.
Drs. H. Cholill Hasibuan M.hum,, cintamu, didikanmu, tak putus, abadi dalam batin kami semua keponakanmu. Kini hanya doa penghubung kita dalam pengharapan CintaNya padamu, "papa".
Kamis, 07 Januari 2010
Billy sayang _ Billy malang!

Aku sangat menyukai anak-anak, dan bahkan setiap orang pasti menyukai anak-anak. Apalagi jika anak tersebut masih balita, lincah dan menggemaskan. Begitu juga dengan balita yang satu ini, Billy namanya. Lahir sebagai anak pertama dari pasangan Esi dan Sam. Billy berusia 2 tahun (saat itu) sangat lincah, periang, tidak cengeng dan bertubuh montok dan tegap.
Rumah Billy tepat berada didepan rumahku. Halaman rumahku cukup asri lapang, terdapat pohon jambu air yang rindang sehingga tak jarang tetangga-tetanggaku datang sekedar duduk dan ngobrol dengan empunya rumah dan sudah pasti duduknya dibawah pohon. Begitu juga Billy, dia sering datang dan main dihalaman rumahku. Billy sangat ceria, dan itu memang ku perhatikan. Dia sangat jarang sekali ku dengar menangis meskipun terjatuh saat tengah bermain atau dimarahi si ibu karena sedikit mengulah, misalnya saja saat ku lihat dia mengejar kucing pada waktu makan. Pernah beberapa kali ketika dia bermain, dia terjatuh, kakinya sedikit memar, tapi sekalipun dia tidak menangis padahal si ibu tengah merepet panjang padanya tapi dia hanya memandang kakinya dan sesekali menoleh pada si ibu yang tengah marah dan menasehatinya. "anak yang baik budi", senyumku dalam hati.
Pernah satu hari Billy ku isengi. Saat dia hendak keluar dari halaman rumahku, pintu pagar yang tadinya terbuka ku tutup tepat saat dia berada didekat pagar selangkah hampir keluar. Billy memandangiku dengan kening berkerut, mungkin dia heran kenapa tiba-tiba pagar ku tutup sedang dia mau keluar. Ku biarkan dia berdiri kebingungan sedang aku menunggu reaksi selanjutnya. "dia pasti menangis", duga ku dalam hati, tapi ternyata dugaanku meleset jauh. Dia malah mencoba mendorong pintu pagar agar terbuka yang tentu saja tak jua bergeming meski sekuat apapun dia mencoba. Kini balik aku yang terkejut dan bingung, betapa ini anak tidak lemah secara mental bahkan sangat tegar, dia tidak merengek untuk dapat perhatian tapi malah berusaha. Hmmm.... Ku tunggu reaksi selanjutnya, aku coba menduga kembali "dia pasti akan cape, lalu menangis dan kemudian akan mendekatiku untuk dibukakan", hatiku coba menerka. Dan lagi, dugaanku kembali rontok. Dia malah memilih melakukan hal lain, tidak ada rengekan sedikitpun apa lagi tangisan, sama sekali tidak. Tahukah anda apa yang Billy lakukan?!, dia malah menjauhi pagar dan bermain sendiri diteras samping rumahku dan mengganggu kucing liar yang sedang nongkrong disitu.
Tapi... Satu hari, semua keceriaan Billy kandas begitu saja. Billy tiba-tiba sakit, demam tinggi. Yesi datang kerumahku dengan panik dan meminta mamaku untuk menolong Billy. Mama membawa Billy ke rumah sakit umum pemerintah. 2 hari berselang, Billy tidak menunjukkan kondisi lebih baik, dan karena alasan JAMSOSTEK yang hanya berlaku disalah satu rumah sakit umum swasta Billy kemudian dipindahkan. Sehari setelah pindah, kondisi Billy menurun drastis dan dengan sangat terpaksa dirawat di ruang ICU, Billy koma. Berhari-hari, tidak juga menunjukkan reaksi lebih baik.
Entah apa alasan, akhirnya keluarga membawa Billy pulang dan menjalani rawat jalan. Sehari kepulangan Billy, ku dengar keluarga Billy mengadakan Kidung (keluarga Billy penganut agama kristen) untuk kesembuhan Billy. Ku dengar tangisan ibunya yang memohon kesembuhan untuk sikecil pada Tuhannya seraya terus menyenandungkan Kidung Rohani. Hatiku terasa miris mendengar tangisan ibunya yang terus mengiba penuh dan dalam kepasrahan yang tersisa memohon mukjizat pada kuasa Tuhannya. "yah... Seorang ibu terhadap anak" desahku membatin. Betapa tidak! Ngilu tentu hati seorang ibu yang dihadapkan pada anak yang tengah menderita dalam keluguan dan kepolosan harus bergelut dengan maut yang kemudian pada akhirnya Billy yang tidak pernah menangis, yang tidak menyerah akhirnya harus menyerah pada pelukan damai Tuhannya dan meneteskan air mata tepat saat matanya tertutup untuk selamanya.
Sungguh teramat dalam Rahasia Tuhan ditiap lembar hidup insan. Inilah Tuhan dengan tiap kuasaNya, lebih memahami yang terbaik bagi hambanya.
Kamis, 30 Juli 2009
yang Muda yang Janda
Aku sebenarnya tidak memiliki teman akrab dalam arti segalanya, hanya saja aku punya banyak teman yang biasa bersama mengisi hari-hari, dan bagi ku mereka bukan teman “akrab” tetapi teman-teman “terbaik”. Aku cukup menjaga silaturrahim dengan orang lain dan siapa saja yang aku kenal walau hanya sekedar menyapa saat bertemu dijalan. Begitu juga dengan beberapa teman masa kecilku yang masih bermukim satu blok dengan tempat tinggalku sekarang. Aku tidak begitu dekat dengan mereka, tapi cukup mengenal mereka. Sebut saja Ebi, Yayan dan Cia. Ebi dan Cia seusia dengan ku, 21 tahun. Sedangkan Yayan berusia setahun lebih muda dari ku, 20 tahun. Namun begitu, ketiga temanku tadi telah menikah dan sekarang telah menyandang status Janda.
Ketiga dari mereka punya cerita tersendiri. Cia, awalnya aku hanya mendengar berita angin yang mengatakan bahwa Cia “kawin lari” (kawin kok lari-lari… alah… ^_^). Cia nekat pergi dari rumah dengan seorang pemuda yang tentu saja aku tidak tahu siapa. Hingga pada lebaran Idul Adha tahun 2007 aku bertemu Cia yang menggendong bayi perempuan berusia 8 bulan yang sangat sehat, montok, lucu dan menggemaskan. Hatiku terpekur, “apa benar Cia memang sudah menikah” selidik hatiku. Ku sapa Cia, dan benar ternyata kabar itu tidak berdusta. Cia mengakui “kawin larinya” padaku, dan mengakui bahwa bayi itu buahnya. “hmmmm…. Benar-benar jujur", salutku dalam hati. Tapi… ada kejujuran lain yang juga meluncur dari ibu muda tersebut yang sangat menyentak aku. Cia mengakui “kawin lari” karena tidak disetujui kaluarga Cia, tapi.. ditengah pernikahan yang baru seumur jagung Cia menggugat cerai suaminya saat usia kandungannya 5 bulan dengan alasan “sang suami tidak bertanggung jawab”. “ah.. Gila… gila”, batinku sungguh tersentak. Syukurnya kepulangan Cia disambut hangat semua keluarga yang telah pernah ia tinggalkan demi seorang laki-laki yang “tidak bertanggung jawab”, bahkan si bayi yang menjadi cucu pertama dalam keluarga tersebut sangat disayang sikakek dan nenek (orang tua Cia). Kutanya apakah dia menyesal telah menikah dengan cara seperti itu hingga mengalami nasib seperti ini. “awalnya menyesal, tapi untuk apa lama-lama menyesal”, jawabnya penuh ketegaran sambil tersenyum menciumi kepala bayi mungil yang ada dalam pelukannya. Aku menggendong bayi itu, seraya berdoa agar Tuhan merahmati anak ini. Karena sesungguhnya orang tua yang salah dalam melangkah.
Lain lagi Yayan, aku tidak tahu menau perihal pernikahan gadis muda tersebut. Hingga pada suatu hari aku melihat Yayan menggendong bayi yang belakangan aku tahu itu bayi laki-laki. Mulanya aku berpikir itu adalah keponakannya, ternyata tidak.. itu adalah anaknya. Tak ada yang salah awalnya hingga aku dibuat benar-benar kaget oleh berita menggegerkan di blok tempat tinggalku. Suami Yayan mati dipenjara (katanya), tak tau apakah karena sakit, dan apa sebab musabab masuk bui. Aku sebenarnya tidak suka dengan desas desus apalagi seputar teman-teman sepermainanku, walau tidak begitu dekat dengan mereka tapi ada rasa miris dihatiku mendengar nama mereka menjadi buah bibir untuk pembicaraan yang tidak baik. Mulanya aku tidak perduli hingga akhirnya aku mendapat kebenaran itu dari Cia, dan itupun karena Cia memulainya, bukan aku yang bertanya.
Jauh berbeda dengan Ebi yang menikah secara baik-baik dan disetujui pihak keluarga. Ebi menikah dengan pesta meriah, jauh bebeda dengan kedua yang diatas. Ebi menikah denagn seorang duda pengusaha perabot. Selang beberapa bulan Ebi mengandung bayi pertamanya yang sekaligus menjadi anak kedua bagi suaminya. Ebi terlihat bahagia dan sejahtera, hingga pada suatu hari disaat Ebi hamil tua dan tinggal menunggu hari untuk bersalin, Ebi mendapat cobaan yang dahsyat. Suaminya mengalami kecalakaan saat pulang dari puncak yang katanya (katanya ni ya…) dalam keadaan mabuk, dan sungguh tak dapat tertolong. Beberapa hari pasca dikebumikan jenazah sang suami, Ebi pun melahirkan bayi perempuan yang putih seputih kulit sang ibu sekaligus barstatus tanpa ayah.
Aku sangat menyadari, tak pernah ada sesiapapun yang bisa menduga jalan hidup. Tak ada yang pernah mau memilih untuk menjadi gagal dan kalah. Aku sendiri hingga kini tidak mengerti bagaimana takdir membawa kita pada cerita hidup. Tapi yang aku tahu, Tuhan juga tidak pernah mempermainkan hambanya dengan skenario yang salah.
Aku saja sebenarnya ingin bisa menikah di usia yang muda seperti beberapa temanku yang sekarang sangat bahagia bersama suami juga anak yang lucu. Aku ingin bisa merajut hidup di usia muda, tapi tentu.. juga dengan laki-laki yang matang dalam memandang hidup, mapan dalam mencari penghidupan, juga melandaskan hatinya pada Sang Khalik, yang bisa diajak bekomunikasi dalam segala hal. Bukan sekedar menikah tanpa ada tanggung jawab, karena.. diakhirat kelak semua akan dipertanyakan.
Rabu, 22 Juli 2009
Tuhan jangan siksa ibunya karena ayahnya salah asuh
Tahun 2001, tepatnya saat Ramadhan ke-2, aku dan ibu sedang menyiapkan keperluan berbuka. tiba-tiba saja seorang tetanggaku datang dan memanggil ibuku dengan nada suara yang terdengar panik. Ibuku yang sedari tadi berkonsentrasi menyiapakan hidangan berbuka menjadi kaget dan segera keluar. Aku yang juga merasa kaget juga menyusul ibuku dibelakang. "ada apa?", tanya ibuku pada tetanggaku tadi dengan nada heran. Wajar saja aku dan ibuku heran, karena waktu berbuka 10 menit lagi. "meninggal ayah si yanti kak. ditelpon orang tu aku tadi dari rumah sakit. katanya mau langsung dibawa ke sidimpuan jenazahnya. pergi la dulu orang kakak nengok kerumah sakit". Sontak saja aku dan keluarga kaget luar biasa, selain karena baru saja dijenguk ayah dan mama tadi ba'da zuhur, rumah keluarga yanti tepat disebelah kanan rumah kami. Ayahku segera memutusakan untuk kerumah sakit Haji Medan. Sesaat kemudian ayahku menelpon agar aku dan kedua abangku menghubungi tetangga untuk menyiapkan rumah duka menyambut kedatangan jenazah.
Tepat pkl.20.20 wib jenazah tiba dirumah duka. Ku lihat yanti menangis tak keruan meratapi jenazah kaku ayahnya, anak perempuan itu ditinggal mati sang ayah di usia 12 tahun. "Bangunlaa yaaahh... ayah kan janji lebaran ini kita pulang kampung". seperti tersengat semua yang ada diruangan itu, mendengar ratapan polos yanti yang memang sangat dekat dan dimanja semasa hidup sang ayah. tapi yanti tidak sendiri, seorang kakak perempuannya "ria" dan seorang abangnya "arif" telah menyandang status yang sama, yatim.
Waktu berlalu. Belum berbilang tahun ayahnya tiada, Arif menjadi-jadi dengan perangai buruknya. Memang semasa hidup mendiang sang ayah, Arif kerap dimanja dan sangat diperturut oleh ayahnya. Jika berkelahi, Arif selalu mendapat pembelaan dari sang ayah. Bahkan jika Arif dimarahi ibunya, maka caci maki tak pelak meluncur dari mulut si ayah tepat dihadapan anak-anak yang tentu saja ditujukan pada si ibu, secara tak langsung anak mendapat didikan untuk menjadi kasar seperti itu. Jelas ini didikan dan contoh yang sangat fatal bagi anak yang masih dalam usia perkembangan mental, cara berpikir dan tingkah laku. Anak akan meniru apa yang ditunjukkan dihadapannya. Tanpa banyak kata, aku menyimpulkan Arif telah di didik sadar atau tidak sadar untuk menjadi seprti yang dicontohkan oleh si ayah, marah, mengamuk. Arif telah salah didik, salah asuh. Arif sering membentak ibunya, marah, mengemuk, memaki, yang semua serapah ditujukan pada ibunya. Naudzubillah. Tapi, jika dia dalam keadaan yang terlihat normal, Arif menjadi orang yang sangat ramah bahkan kepada ibu yang sering dimaki nya. Pernah ku lihat dia menyapu saat dia ditinggal sendiri dirumah, membawa dan membujuk ibunya untuk berobat saat ibunya sakit. "aneh", pikirku dalam hati.
Suatu malam aku terbangun karena mendengar seperti ada pertengkaran. Lamat-lamat coba ku tangkap suara gaduh tersebut. Barang dibanting, suara barang pecah, bentakan-bentakan, semua menggaduh di hening malam. Semakin cooba ku tangkap, ternyata telinga ku menangkap bahwa itu suara Arif. Aku terbangun dan segera keluar kamar, ku dapati ibuku sedang meneliti dari jendela samping rumah kami. Cacian-cacian kami dengar, dan ini kerap terjadi jika Arif dalam keadaan tidak normal, mabuk, atau karena tidak diberi uang.
Sekali waktu aku dan ibuku kembali terbangun karena mendengar tangisan yanti yang mengiba. Aku mendengar suara pintu kamar mandi di gedor dari arah dalam, dan tentu saja aku mengenal suara yang menangis. Itu adalah yanti, yang dikurung dalam kamr mandi pada pkl. 02 dinihari. Aku dan ibuku keluar rumah, kulihat beberapa tetangga juga bangun tapi tak berniat keluar hanya karena satu alasan yang sebenarnya kami juga takut. Takut Arif nekat dan mecelakakan ibunya lebih parah jika kami mencoba masuk dan mengetuk pintu rumahnya dan menyakan "ada apa, kenapa, mengapa". Akhirnya kami hanya menunggu dengan H2C,, harap-harap cemas. Ke-2 abang juga tidak bisa berbuat apa-apa, ayahku yang tidak berada dirumah karena memang bekerja diluar kota semakin membuat kami tidak bisa berbuat apa-apa.
Keesokan harinya ibuku menyakan sebab musabab pertengkaran semalam. ibu Arif menjelaskan bahwa Arif pulang dengan keadan mabuk. Entah apa sebab dia marah tak karuan, sakau mungkin. Aku dan ibuku terdiam mendengar pengakuan hati seorang ibu yang luka. "tak taulah awak, entah hapa dosa hidup, ditinggal jadi janda dengan titipan anak yang tak terbilangkan tingkahnya" , suara ibu arif membuat aku melemparkan pandangan ke jalanan.
Ria kakak yanti lulus bekerja di perusahaan bonafit dan mengharuskan kakaknya tinggal di luar kota, sedangkan yanti lulus SMU dan melanjutkan studi di kesehatan yang mengharuskan yanti meninggalkan ibunya seorang diri karena yanti wajib tinggal di Asrama kampusnya.
Suatu malam aku dan ibuku kembali terbangun, karena pertengkaran yang acap kali terjadi dirumah sebelah. Aku melirik jam dinding, pkl.01 dinihari. "gila" pekikku. Aku dan ibuku terjaga hingga menjelang subuh, karena mendengar barang-barang pecah dan berserakan. Yang lebih menyakitkan telingaku, Arif marah-marah memaki sambil menyebut-nyebut jenis kemaluan, yang tentu saja ditujukan untuk ibunya, meng"Kau"kan si ibu dengan menyebut kemaluan laki-laki. "Allaaaahh...", ingin rasanya aku menyumpahinya.
Keesokan harinya ibu Arif menceritakan kejadian semalam. "Aku disuruh duduk bersimpuh gak boleh bergerak. Ditumpahkannya minyak lampu yang baru kita antrikan semalam dari atas kepalaku ngucur kebawah. Semua minyak lampu itu disiramnya sama ku. Habis tiga liter yang kuantrikan satu jam." tutur ibu Arif pelan dengan tatapan kosong, air mata tertahan, namun jelas terlihat bahwa ia berusaha menerima keadaan hidupnya. Aku diam sediam ibuku yang tak bisa berkata apa-apa. "Disayatnya daguku pakai pisau dapur yang baru diasah", ibu Arif mendongakkan lehernya sehingga kami dapat melihat luka sayatan di dagu bagian dalam. Berdentum rasa dada ku, " Gila..". Akhirnya aku melihat airmatanya jatuh tanpa isyarat, pelan mengalir, tak lagi dapat ditahannya, ia menangis tanpa suara, tanpa isakan. Air mata itu perlahan mengalir di pipi tuanya, mengairi pipi perempuan yang semakin terlihat tua dan ringkih. Dan aku... aku semakin diam terpekur.
sesaat aku berucap dalam batin
"Tuhan.. jangan siksa ibunya karena ayahnya salah asuh."
Astaghfiruka wa atubu ilaik.
Tepat pkl.20.20 wib jenazah tiba dirumah duka. Ku lihat yanti menangis tak keruan meratapi jenazah kaku ayahnya, anak perempuan itu ditinggal mati sang ayah di usia 12 tahun. "Bangunlaa yaaahh... ayah kan janji lebaran ini kita pulang kampung". seperti tersengat semua yang ada diruangan itu, mendengar ratapan polos yanti yang memang sangat dekat dan dimanja semasa hidup sang ayah. tapi yanti tidak sendiri, seorang kakak perempuannya "ria" dan seorang abangnya "arif" telah menyandang status yang sama, yatim.
Waktu berlalu. Belum berbilang tahun ayahnya tiada, Arif menjadi-jadi dengan perangai buruknya. Memang semasa hidup mendiang sang ayah, Arif kerap dimanja dan sangat diperturut oleh ayahnya. Jika berkelahi, Arif selalu mendapat pembelaan dari sang ayah. Bahkan jika Arif dimarahi ibunya, maka caci maki tak pelak meluncur dari mulut si ayah tepat dihadapan anak-anak yang tentu saja ditujukan pada si ibu, secara tak langsung anak mendapat didikan untuk menjadi kasar seperti itu. Jelas ini didikan dan contoh yang sangat fatal bagi anak yang masih dalam usia perkembangan mental, cara berpikir dan tingkah laku. Anak akan meniru apa yang ditunjukkan dihadapannya. Tanpa banyak kata, aku menyimpulkan Arif telah di didik sadar atau tidak sadar untuk menjadi seprti yang dicontohkan oleh si ayah, marah, mengamuk. Arif telah salah didik, salah asuh. Arif sering membentak ibunya, marah, mengemuk, memaki, yang semua serapah ditujukan pada ibunya. Naudzubillah. Tapi, jika dia dalam keadaan yang terlihat normal, Arif menjadi orang yang sangat ramah bahkan kepada ibu yang sering dimaki nya. Pernah ku lihat dia menyapu saat dia ditinggal sendiri dirumah, membawa dan membujuk ibunya untuk berobat saat ibunya sakit. "aneh", pikirku dalam hati.
Suatu malam aku terbangun karena mendengar seperti ada pertengkaran. Lamat-lamat coba ku tangkap suara gaduh tersebut. Barang dibanting, suara barang pecah, bentakan-bentakan, semua menggaduh di hening malam. Semakin cooba ku tangkap, ternyata telinga ku menangkap bahwa itu suara Arif. Aku terbangun dan segera keluar kamar, ku dapati ibuku sedang meneliti dari jendela samping rumah kami. Cacian-cacian kami dengar, dan ini kerap terjadi jika Arif dalam keadaan tidak normal, mabuk, atau karena tidak diberi uang.
Sekali waktu aku dan ibuku kembali terbangun karena mendengar tangisan yanti yang mengiba. Aku mendengar suara pintu kamar mandi di gedor dari arah dalam, dan tentu saja aku mengenal suara yang menangis. Itu adalah yanti, yang dikurung dalam kamr mandi pada pkl. 02 dinihari. Aku dan ibuku keluar rumah, kulihat beberapa tetangga juga bangun tapi tak berniat keluar hanya karena satu alasan yang sebenarnya kami juga takut. Takut Arif nekat dan mecelakakan ibunya lebih parah jika kami mencoba masuk dan mengetuk pintu rumahnya dan menyakan "ada apa, kenapa, mengapa". Akhirnya kami hanya menunggu dengan H2C,, harap-harap cemas. Ke-2 abang juga tidak bisa berbuat apa-apa, ayahku yang tidak berada dirumah karena memang bekerja diluar kota semakin membuat kami tidak bisa berbuat apa-apa.
Keesokan harinya ibuku menyakan sebab musabab pertengkaran semalam. ibu Arif menjelaskan bahwa Arif pulang dengan keadan mabuk. Entah apa sebab dia marah tak karuan, sakau mungkin. Aku dan ibuku terdiam mendengar pengakuan hati seorang ibu yang luka. "tak taulah awak, entah hapa dosa hidup, ditinggal jadi janda dengan titipan anak yang tak terbilangkan tingkahnya" , suara ibu arif membuat aku melemparkan pandangan ke jalanan.
Ria kakak yanti lulus bekerja di perusahaan bonafit dan mengharuskan kakaknya tinggal di luar kota, sedangkan yanti lulus SMU dan melanjutkan studi di kesehatan yang mengharuskan yanti meninggalkan ibunya seorang diri karena yanti wajib tinggal di Asrama kampusnya.
Suatu malam aku dan ibuku kembali terbangun, karena pertengkaran yang acap kali terjadi dirumah sebelah. Aku melirik jam dinding, pkl.01 dinihari. "gila" pekikku. Aku dan ibuku terjaga hingga menjelang subuh, karena mendengar barang-barang pecah dan berserakan. Yang lebih menyakitkan telingaku, Arif marah-marah memaki sambil menyebut-nyebut jenis kemaluan, yang tentu saja ditujukan untuk ibunya, meng"Kau"kan si ibu dengan menyebut kemaluan laki-laki. "Allaaaahh...", ingin rasanya aku menyumpahinya.
Keesokan harinya ibu Arif menceritakan kejadian semalam. "Aku disuruh duduk bersimpuh gak boleh bergerak. Ditumpahkannya minyak lampu yang baru kita antrikan semalam dari atas kepalaku ngucur kebawah. Semua minyak lampu itu disiramnya sama ku. Habis tiga liter yang kuantrikan satu jam." tutur ibu Arif pelan dengan tatapan kosong, air mata tertahan, namun jelas terlihat bahwa ia berusaha menerima keadaan hidupnya. Aku diam sediam ibuku yang tak bisa berkata apa-apa. "Disayatnya daguku pakai pisau dapur yang baru diasah", ibu Arif mendongakkan lehernya sehingga kami dapat melihat luka sayatan di dagu bagian dalam. Berdentum rasa dada ku, " Gila..". Akhirnya aku melihat airmatanya jatuh tanpa isyarat, pelan mengalir, tak lagi dapat ditahannya, ia menangis tanpa suara, tanpa isakan. Air mata itu perlahan mengalir di pipi tuanya, mengairi pipi perempuan yang semakin terlihat tua dan ringkih. Dan aku... aku semakin diam terpekur.
sesaat aku berucap dalam batin
"Tuhan.. jangan siksa ibunya karena ayahnya salah asuh."
Astaghfiruka wa atubu ilaik.
Selasa, 30 Juni 2009
Antara Sedekah dan Dusta

aku baru saja keluar dari sebuah cafe yang terletak disebelah kiri kampusku (UISU) di jalan SM.Raja Medan. Saat itu aku dan teman-teman merayakan perayaan kecil (biasa.. anak muda), hari itu tepat pada tanggal 24 juni 2009, Rabu dan sekaligus sebagai hari terakhir kami menyelesaikan ujian semester akhir (saat itu aku duduk di semester akhir, semester VIII FKIP-UISU). Ketika aku sedang asyik bercengkrama dengan teman-teman, aku melirik jam tangan ku. Waktu menunjukkan pkl.18.15 WIB mnejelang maghrib, aku segera pulang.
Aku berjalan menuju depan kampusku dan hendak menyebrang. aku berjalan dalam keadaan pikiran yang tidak begitu fokus karena memang pada saat itu ada beberapa masalah yang mengerubungi kepala ku. saat aku bersiap menyebrang, tiba-tiba saja aku disapa seorang laki-laki setengah baya dengan wajahnya yang sedikit pucat, gelisah dan dengan mata yang berkaca-kaca. dari paras dan penampilannya, kira-kira lelaki setengah baya ini berumur 45 tahun kurang lebih. sontak saja aku kaget. "nak, bisa bapak minta tolong?", ku dengar suara parau yang menyapaku dengan cepat. belum sempat aku bertanya atau menjawab sapanya tadi dia langsung menyambung suara, "bapak baru saja kecopetan, bapak baru terima uang gaji ternyata kecopetan, bapak gak ada ongkos lagi untuk pulang." jelasnya panjang lebar kepadaku yang dari tadi mencoba terus memperhatikannya, dan kudapati tangan kanannya memegang uang dengan nominal Rp.1ooo yang kupastikan itu hanya selembar. aku segera mengambil keputusan dengan cepat, aku tidak mau berlama-lama bicara dengan orang asing ditengah jalan apalagi sudah menjelang maghrib.
segera ku tanya dia dengan tenang "Rumah bapak dimana?", namun dalam hati aku berdoa mohon perlindungan Allah atas segala sesuatu yang membawa ku pada mudharat, maklumlah dikota Medan sering terjadi hal-hal negative seperti hipnotis, rampok bahkan penculikan. yaa.. walaupun tampang ku gak ada pantas-pantasnya untuk jadi korban penculikan tapi tetap saja aku harus wapada, sedia ember sebelum hujan (lho.. koq gak nyambung). sudahlah, mari kita kembali kejalan yang benar. setelah kutanya dimana rumanya, aku segera mendapat jawaban "Tanjung Morawa" jawabnya singkat sambil menyeka matanya yang memang ku lihat agak berkaca-kaca. langsung saja aku mengeluarkan selembar uang yang ku kira akan cukup untuk ongkos dia pulang ke arah Tanjung Morawa, bahkan jika dia harus menyambung angkot tiga kali dari depan kampusku, uang itu masih cukup untuk mengantarnya sampai ke Tanjung Morawa.
saat aku menjulurkan selembar uang tersebut dia mengatakan nominal itu terlalu banyak, "banyak kali nak, lima ribu aja". aku yang memang sedari tadi ingin secepatnya beranjak segera menjawab "sudah pak tidak apa-apa, saya ikhlas". dia mengucapkan terima kasih dan melantunkan doa semoga Allah memberiku kemurahan rezeki. aku mengaminkan dan mengucapkan salam, "assalamu'alaikum" ucapku cepat kemudian segera menyebrang, masih sempat aku mendengar jawaban salam paraunya diantara deru kendaraan yang berlari mengejar waktu saat senja semakin pudar ditelan gelap, "Wa'alaikumsalam" jawabnya sayup. saat aku berada ditengah badan jalan, aku sempatkan menoleh dan aku melihat bahwa dia masih memperhatikanku hingga aku menyebrang ketrotoar. sesampai disebrang, aku melihatnya memberhentikan angkot yang aku tidak tahu Nomor jurusan angkot tersebut (apakah jurusan arah Tanjung Morawa atau bukan), dan aku melihat dia naik angkot tersebut.
sesampai dirumah, aku menceritakan pada keluargaku apa yang baru saja aku alami. mereka menanggapi dengan nada heran "ini tanggal 24, gajian apa?", sepupuku yang kebetulan bersilaturrahim kerumah juga menimpali dengan nada yang sama. ketika aku masih dalam perjalanan pulang kerumah, pertanyaan/keheranan yang sama dengan komentar keluargaku tadi sebenarnya juga terbersit dalam benakku, "ini tanggal 24, jika tanggal 29 atau 30 memang ada orang yang gajian akhir bulan. tapi ini...?" benakku coba menganalisa (memang ada beberapa instansi atau industri besar ataupun kecil yang menggaji karyawan diakhir bulan, seperti abang ku yang bekerja perusahaan sawit di Kalimantan barat, dia terima gaji akhir bulan tanggal 28 atau 29). tapi ku coba mengingat-ingat bahasa tubuh laki-laki setengah baya yang menyapaku tadi, dari parasnya yang pucat, murung, mata yang berkaca-kaca, mungkin saja dia benar dia kemalangan. aku segera beristighfar, meyakinkan diri bahwa ini adalah rencana Allah dan aku tidak perlu berpikir apa-apa lagi, "toh aku selamat dari kemudharatan yang tadi sempat membayangi pikiranku, dan jika aku ikhlas maka aku tidak perlu mengingat-ingat lagi" tegasku dalam hati.
ini bukan pengalamanku yang pertama dimintai tolong secara tiba-tiba ditengah jalan. sekali pernah seorang mahasiswi UMSU yang katanya kecopetan, kebetulan aku bertemu dia saat menunggu angkot di dekat Taman Stadion Teladan Medan, arah rumahnya berbeda denganku (rumahku di perumnas mandala), kukatakan sejujurnya kepadanya bahwa aku tak punya uang pecah yang bisa ku berikan sebagai ongkos dia pulang (rumahnya di jalan Bromo). ku tawari dia untuk menelphon keluarga atau temannya agar menjemput dia ditempat yang sudah ditentukan agar yang menjemput mudah mendapati dia, ku katakan padanya bahwa aku yang akan membayar biaya telphonya. dia setuju dah ku bawa dia ke wartel terdekat.
dilain waktu ada seorang ibu yang juga tiba-tiba mendatangiku saat aku tengah menunggu copian berkasku di sebuah Toko FotoCopy di dekat kampusku tepatnya di depan sekolah Eria Medan, ia meminta tolong agar aku memberinya uang karena dia tidak mempunyai uang lagi untuk ongkos pulang karena dia salah naik angkot dari RS.Pirngadi menuju Binjai, ternyata kesasar ke jalan SM.Raja kampusku (jauh banget pikirku.... ^_^). aku tak ingin berlama-lama, segera ku kelurkan bantuan sepantasnya.
pernah lagi dilain waktu, seorang anak SMP (perempuan dan memakai jilbab, terlihat polos dan jujur) yang tidak membawa uang saku, mungkin dia lupa membawa. dia duduk di depanku, kulihat dia gelisah tanpa sedikit pun berkata. dia membongkar-bongkar isi tas nya, kantong baju dan roknya. tak ada sesuatu yang keluar untuk digenggam. matanya mulai berair. segera ku sapa dan ku tanya, ternyata dia tidak membawa uang karena buru-buru takut terlambat akhirnya lupa. ku katakan padanya aku yang akan membayar, sesaat setelah dia mengucapkan terima kasih, dia lebih dahulu turun dari ku.
terlepas dari apapun, namun niat di hati adalah Allah. karena aku berpikir, jika saja aku yang mengalami hal-hal tersebut, aku kesasar atau kecopetan, tak tahu arah p-ulang, tak punya uang untuk ongkos pulang. betapa sedihnya jika tak ada orang yang sudi membantu. Aku berpikir, aku ikhlas, terlepas jika yang datang meminta tolong itu ternyata hanya berpura-pura semata untuk mendapat uang. dan akhirnya hanya Kepada Allah semua perkara ku kembalikan.
Semoga Allah ridha pada mereka yang mau menolong sesama dalam keikhlasan, Amin.
Aku berjalan menuju depan kampusku dan hendak menyebrang. aku berjalan dalam keadaan pikiran yang tidak begitu fokus karena memang pada saat itu ada beberapa masalah yang mengerubungi kepala ku. saat aku bersiap menyebrang, tiba-tiba saja aku disapa seorang laki-laki setengah baya dengan wajahnya yang sedikit pucat, gelisah dan dengan mata yang berkaca-kaca. dari paras dan penampilannya, kira-kira lelaki setengah baya ini berumur 45 tahun kurang lebih. sontak saja aku kaget. "nak, bisa bapak minta tolong?", ku dengar suara parau yang menyapaku dengan cepat. belum sempat aku bertanya atau menjawab sapanya tadi dia langsung menyambung suara, "bapak baru saja kecopetan, bapak baru terima uang gaji ternyata kecopetan, bapak gak ada ongkos lagi untuk pulang." jelasnya panjang lebar kepadaku yang dari tadi mencoba terus memperhatikannya, dan kudapati tangan kanannya memegang uang dengan nominal Rp.1ooo yang kupastikan itu hanya selembar. aku segera mengambil keputusan dengan cepat, aku tidak mau berlama-lama bicara dengan orang asing ditengah jalan apalagi sudah menjelang maghrib.
segera ku tanya dia dengan tenang "Rumah bapak dimana?", namun dalam hati aku berdoa mohon perlindungan Allah atas segala sesuatu yang membawa ku pada mudharat, maklumlah dikota Medan sering terjadi hal-hal negative seperti hipnotis, rampok bahkan penculikan. yaa.. walaupun tampang ku gak ada pantas-pantasnya untuk jadi korban penculikan tapi tetap saja aku harus wapada, sedia ember sebelum hujan (lho.. koq gak nyambung). sudahlah, mari kita kembali kejalan yang benar. setelah kutanya dimana rumanya, aku segera mendapat jawaban "Tanjung Morawa" jawabnya singkat sambil menyeka matanya yang memang ku lihat agak berkaca-kaca. langsung saja aku mengeluarkan selembar uang yang ku kira akan cukup untuk ongkos dia pulang ke arah Tanjung Morawa, bahkan jika dia harus menyambung angkot tiga kali dari depan kampusku, uang itu masih cukup untuk mengantarnya sampai ke Tanjung Morawa.
saat aku menjulurkan selembar uang tersebut dia mengatakan nominal itu terlalu banyak, "banyak kali nak, lima ribu aja". aku yang memang sedari tadi ingin secepatnya beranjak segera menjawab "sudah pak tidak apa-apa, saya ikhlas". dia mengucapkan terima kasih dan melantunkan doa semoga Allah memberiku kemurahan rezeki. aku mengaminkan dan mengucapkan salam, "assalamu'alaikum" ucapku cepat kemudian segera menyebrang, masih sempat aku mendengar jawaban salam paraunya diantara deru kendaraan yang berlari mengejar waktu saat senja semakin pudar ditelan gelap, "Wa'alaikumsalam" jawabnya sayup. saat aku berada ditengah badan jalan, aku sempatkan menoleh dan aku melihat bahwa dia masih memperhatikanku hingga aku menyebrang ketrotoar. sesampai disebrang, aku melihatnya memberhentikan angkot yang aku tidak tahu Nomor jurusan angkot tersebut (apakah jurusan arah Tanjung Morawa atau bukan), dan aku melihat dia naik angkot tersebut.
sesampai dirumah, aku menceritakan pada keluargaku apa yang baru saja aku alami. mereka menanggapi dengan nada heran "ini tanggal 24, gajian apa?", sepupuku yang kebetulan bersilaturrahim kerumah juga menimpali dengan nada yang sama. ketika aku masih dalam perjalanan pulang kerumah, pertanyaan/keheranan yang sama dengan komentar keluargaku tadi sebenarnya juga terbersit dalam benakku, "ini tanggal 24, jika tanggal 29 atau 30 memang ada orang yang gajian akhir bulan. tapi ini...?" benakku coba menganalisa (memang ada beberapa instansi atau industri besar ataupun kecil yang menggaji karyawan diakhir bulan, seperti abang ku yang bekerja perusahaan sawit di Kalimantan barat, dia terima gaji akhir bulan tanggal 28 atau 29). tapi ku coba mengingat-ingat bahasa tubuh laki-laki setengah baya yang menyapaku tadi, dari parasnya yang pucat, murung, mata yang berkaca-kaca, mungkin saja dia benar dia kemalangan. aku segera beristighfar, meyakinkan diri bahwa ini adalah rencana Allah dan aku tidak perlu berpikir apa-apa lagi, "toh aku selamat dari kemudharatan yang tadi sempat membayangi pikiranku, dan jika aku ikhlas maka aku tidak perlu mengingat-ingat lagi" tegasku dalam hati.
ini bukan pengalamanku yang pertama dimintai tolong secara tiba-tiba ditengah jalan. sekali pernah seorang mahasiswi UMSU yang katanya kecopetan, kebetulan aku bertemu dia saat menunggu angkot di dekat Taman Stadion Teladan Medan, arah rumahnya berbeda denganku (rumahku di perumnas mandala), kukatakan sejujurnya kepadanya bahwa aku tak punya uang pecah yang bisa ku berikan sebagai ongkos dia pulang (rumahnya di jalan Bromo). ku tawari dia untuk menelphon keluarga atau temannya agar menjemput dia ditempat yang sudah ditentukan agar yang menjemput mudah mendapati dia, ku katakan padanya bahwa aku yang akan membayar biaya telphonya. dia setuju dah ku bawa dia ke wartel terdekat.
dilain waktu ada seorang ibu yang juga tiba-tiba mendatangiku saat aku tengah menunggu copian berkasku di sebuah Toko FotoCopy di dekat kampusku tepatnya di depan sekolah Eria Medan, ia meminta tolong agar aku memberinya uang karena dia tidak mempunyai uang lagi untuk ongkos pulang karena dia salah naik angkot dari RS.Pirngadi menuju Binjai, ternyata kesasar ke jalan SM.Raja kampusku (jauh banget pikirku.... ^_^). aku tak ingin berlama-lama, segera ku kelurkan bantuan sepantasnya.
pernah lagi dilain waktu, seorang anak SMP (perempuan dan memakai jilbab, terlihat polos dan jujur) yang tidak membawa uang saku, mungkin dia lupa membawa. dia duduk di depanku, kulihat dia gelisah tanpa sedikit pun berkata. dia membongkar-bongkar isi tas nya, kantong baju dan roknya. tak ada sesuatu yang keluar untuk digenggam. matanya mulai berair. segera ku sapa dan ku tanya, ternyata dia tidak membawa uang karena buru-buru takut terlambat akhirnya lupa. ku katakan padanya aku yang akan membayar, sesaat setelah dia mengucapkan terima kasih, dia lebih dahulu turun dari ku.
terlepas dari apapun, namun niat di hati adalah Allah. karena aku berpikir, jika saja aku yang mengalami hal-hal tersebut, aku kesasar atau kecopetan, tak tahu arah p-ulang, tak punya uang untuk ongkos pulang. betapa sedihnya jika tak ada orang yang sudi membantu. Aku berpikir, aku ikhlas, terlepas jika yang datang meminta tolong itu ternyata hanya berpura-pura semata untuk mendapat uang. dan akhirnya hanya Kepada Allah semua perkara ku kembalikan.
Semoga Allah ridha pada mereka yang mau menolong sesama dalam keikhlasan, Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)